Selamat Datang di MAUTAU.com


Program VCT Online mautau.com dirancang untuk meredam dampak stigma yang melekat pada penyakit HIV-AIDS dan mendukung program pemerintah yaitu menahan laju epidemi HIV-AIDS dengan memungkinkan para klien untuk memeriksakan status HIV dirinya tanpa harus mengungkapkan identitasnya. Melalui sistim ini, konseling dalam rangka tes HIV (yang dikenal dengan istilah VCT - Voluntary Counseling and Testing) dapat dilakukan secara online melalui chatting tertutup dengan Konselor mautau.com yang telah mendapatkan sertifikasi dari Depkes.

Seperti kita ketahui, dengan berkembangnya waktu, tak seorangpun kini aman dari HIV-AIDS. Penyakit yang belum ada obatnya itu bukan hanya mengancam kelompok-kelompok yang disebut berperilaku "berisiko" tetapi kita semua. Maka alangkah baiknya jika kita masing-masing mengetahui status HIV kita sendiri dan pasangan, sehingga kita turut berpartisipasi dalam upaya pencegahan dan penangggulangan HIV-AIDS di Indonesia, dengan harapan tidak terjadi "ledakan" di kemudian hari.

Bagaimanakah cara kerja VCT Online mautau.com? ... Silahkan klik link di bawah ini dan simak keterangan tentang "Prosedur 7 Langkah" yang dirancang untuk membantu upaya memutus mata rantai penularan HIV-AIDS. Jika setelah membaca "Prosedur 7 Langkah" ada hal-hal yang belum jelas, silahkan menghubungi kami melalui "email" atau melalui chatting dengan staff kami yang sedang bertugas (klik indikator YM yang menyala).

Jika Anda ingin mengetahui latar belakang program VCT Online mautau.com lebih lanjut, silahkan klik link di bawah ini:

Latar Belakang

Yayasan KAPETA memperkenalkan program barunya " VCT Online"yang dirancang untuk mengurangi dampak stigma pada usaha pencegahan HIV. Program online, interaktif, bersifatANONIM & RAHASIA ini adalah yang PERTAMA di dunia.

Di era Cyberspace ini, penggunaan internet menjamur dimana-mana. Internet sering kali digunakan sebagai sarana informasi dan komunikasi yang digunakan oleh berbagai kalangan untuk berbagai macam tujuan dan keperluan, termasuk mencari pasangan sex melalui berbagai milis dan "chat room". Tujuan dasar MAUTAU ialah menekan laju epidemi HIV dengan melakukan upaya penjangkauan dan penanggulangan secara online, mengingat sebagian orang yang menduga dirinya telah tertular HIV ataupun yang hanya sekedar ingin tahu, merasa enggan atau takut untuk datang ke tempat-tempat pelayanan VCT (Voluntary Counseling and Testing) dan bertatap muka serta berdiskusi dengan Konselor sebelum melakukan tes HIV, akibat stigma yang melekat.

Melalui program ini, untuk pertama kalinya di Indonesia, Konsultasi dalam rangka Tes HIV dapat dilakukan online melalui “Chatting Tertutup Pribadi” (secure private chatting) dengan Konselor MAUTAU yang telah mendapat sertifikasi dari DepKes. Dengan menjalani Prosedur 7 - Langkah MAUTAU, Peserta tidak perlu khawatir hasil tes HIVnya akan diketahui orang karena mereka tidak diharuskan untuk mengungkapkan jati dirinya. Peserta yang hasil tesnya positif akan didorong untuk datang ke KAPETA atau LSM - LSM lain yang bekerja sama dengan KAPETA untuk konseling tatap muka. Pada tahap inilah peserta diminta untuk mengungkapkan jati dirinya yang sebenarnya agar dapat dirujuk ke klinik CST dan KDS. Bagi 100 peserta pertama yang hasil tesnya positif akan mendapatkan tes CD-4 gratis.

Program MAUTAU merupakan pemikiran inovatif “di luar kotak” (outside the box) yang telah melalui proses “brainstorming” dengan berbagai pihak yang berkompeten di bidang HIV-AIDS di dalam maupun di luar negeri. Program MAUTAU adalah solusi alternatif untuk melengkapi berbagai program KIE (Komunikasi, Informasi dan Edukasi) tentang HIV-AIDS dan VCT dalam rangka Tes HIV, yang sudah berjalan selama ini di Indonesia, guna mewujudkan upaya pencegahan dan penanggulangan HIV-AIDS yang lebih efektif. Hal ini dilakukan mengingat bahwa jumlah penduduk yang telah terjangkau oleh program-program penyuluhan maupun yang telah melakukan Tes HIV sampai sekarang masih rendah dan juga dengan mempertimbangkan keragaman masyarakat Indonesia yang memerlukan pelayanan yang beragam pula.

MAUTAU mencakup jaringan kerjasama yang terdiri dari laboratorium, rumah sakit, dokter,  psikolog dan LSM.

Uji coba prototype program MAUTAU telah dimulai pada hari Senin, 8 Desember 2008 yang lalu. Mengingat bahwa jaringan kerjasama MAUTAU baru mencakup laboratorium yang berada di daerah Jakarta, maka layanan VCT online untuk sementara ini hanya terbuka bagi peserta dari DKI Jakarta.

Kami mengucapkan terima kasih kepada para pengunjung yang telah mengikuti polling. Bagi yang ingin menyampaikan komentar, kritik dan saran, silahkan mengisi Buku Tamu kami atau kirim email melaluli link Hubungi Kami. 

Pengunjung yang telah mendaftar/membuat Account di mautau.com bisa langsung menggunakan fasilitas “Chatting” dan "Forum Diskusi" yang khusus disediakan untuk Komunitas Peduli AIDS. Maka dengan ini kami mengundang Anda semua untuk segera membuat Account MAUTAU (tanpa pungutan biaya).

Sebagai akhir kata, kami ucapkan terima kasih atas dukungan Anda semua kepada programMAUTAU.  Semoga apa yang menjadi cita-cita program ini, yaitu membantu upaya Pemerintah dalam menekan laju epidemi HIV di Indonesia dapat terlaksana.

Seperti kita ketahui, kasus HIV-AIDS meningkat dengan tajam akhir-akhir ini di Indonesia. Di Papua, di mana rate kumulatif kasus AIDS mencapai 15 kali rate nasional, penyakit HIV sudah mulai menyebar di tengah masyarakat umum. Artinya, sudah mulai banyak ibu rumah tangga dan bahkan bayi yang terkena HIV. Setelah Papua, menurut Laporan Depkes 10 Oktober 2007, propinsi lainnya dengan rate kumulatif kasus AIDS tertinggi di Indonesia ialah  DKI Jakarta, Kepulauan Riau dan Bali. Tetapi jumlah kasus HIV-AIDS terbesar terjadi di DKI Jakarta, yang mengalami kenaikan sebesar 11% dibandingkan tahun lalu.

Namun demikian, tidak tertutup kemungkinan bahwa kasus HIV-AIDS yang sebetulnya melebihi angka-angka yang ada, mengingat bahwa sistim surveilans di Indonesia tidak menyeluruh dan jumlah penduduk yang telah mendapat penyuluhan tentang HIV-AIDS maupun yang telah melakukan tes HIV sampai saat ini masih tergolong rendah.

Penyebaran HIV erat kaitannya dengan ketidaktahuan masyarakat tentang status HIVnya sehingga yang positif secara tidak sadar menularkan virus kepada orang lain. Dengan demikian, kasus HIV terus meningkat dan kian sulit dicegah maupun dideteksi.

Masyarakat tidak tahu status HIVnya karena tidak melakukan tes HIV. Selain karena terbatasnya akses pada tempat-tempat pelayanan VCT dan penggunaannya, setidaknya ada dua alasan utama lainnya mengapa banyak orang tidak melakukan Tes HIV. Ada yang tidak melakukannya karena tidak menganggap dirinya rawan tertular HIV atau tidak merasa melakukan perilaku berisko tertular HIV sehingga menganggap dirinya pasti negatif, tetapi ada juga yang tidak melakukannya karena pengaruh stigma yang melekat erat pada penyakit HIV-AIDS, termasuk segala sesuatunya yang berhubungan dengan penyakit itu, sehingga membuat mereka mengurungkan niatnya untuk melakukan tes HIV, walaupun sebenarnya mereka mungkin ingin tahu status HIVnya.

Tujuan MAUTAU

Dengan latar belakang tersebut di atas, pemikiran di balik MAUTAU ialah:

  1. Untuk membangun  masyarakat Indonesia yang tahu status HIVnya, dengan mensosialisasikan tes HIV sebagai hal  yang biasa, yang bukan lagi dianggap sebagai sesuatu yang memalukan atau menakutkan tapi justru sebagai bagian dari tes rutin kesehatan, mengingat bahwa kita semua rawan terhadap bahaya HIV-AIDS (dalam arti kata tidak hanya yang berperilaku berisiko tertular HIV yang bisa tertular HIV). Walaupun obat/vaksin untuk menyembuhkan HIV-AIDS belum ada, tapi masih banyak yang belum tahu bahwa dengan menjalani terapi antiretroviral (ART), laju penyakit HIV bisa dicegah agar tidak cepat berlanjut ke tahap AIDS. 
  2. Berkaitan dengan hal di atas, untuk membantu mengurangi stigma dan diskriminasi terhadap orang-orang yang hidup dengan HIV - selama ini HIV-AIDS selalu dikaitkan dengan orang-orang yang berperilaku berisiko tertular HIV, padahal kenyataannya tidak selalu demikian. Paradigma inilah yang ingin dirubah MAUTAU agar publik – setidaknya di Indonesia – bisa memahami betapa tes HIV juga penting bagi orang-orang yang merasa tidak berperilaku “berisiko”.
  3. Untuk menjangkau segmen masyarakat tertentu (yang dikenal dengan istilah masyarakat “tersembunyi”), yang ingin tahu status HIVnya tetapi TIDAK MAU berkunjung ke klinik VCT karena malu, enggan, takut atau karena alasan lainnya, dan TIDAK MAU mengungkapkan jati dirinya kepada Konselor. 

Tentunya, ketiga hal di atas tidak lepas dari upaya kita semua untuk mencegah dan menanggulangi HIV-AIDS di Indonesia, yang merupakan keprihatinan dan kepedulian utama kita semua.

Rencana Kerja MAUTAU

Sebelum uji coba Kon TesHIV dimulai, MAUTAU mengadakan Polling selama minggu pertama Desember 2008 dengan tujuan mewujudkan Konsultasi Online dan Tes HIV dengan pelayanan yang sesempurna mungkin, berdasarkan masukan dari para pengunjung. Maka kami mengharapkan partisipasi Anda semua untuk mengikuti polling yang kami adakan itu.

Prototype MAUTAU akan diuji coba mulai tanggal 8 Desember 2008, dengan melibatkan Peserta dari DKI Jakarta. Selama uji coba tersebut, sistim pelayanan MAUTAU akan terus dibenahi agar menjadi lebih efisien dan MAUTAU akan memperluas jaringan kerjasamanya dengan berbagai pihak laboratorium, klinik CST, dan LSM.

Fasilitas MAUTAU

Selain program Kon TesHIV, MAUTAU juga menyediakan fasilitas “Chatting” dan "Forum Diskusi" yang khusus diperuntukkan bagi Komunitas Peduli AIDS dan mengadakan Kuis Mingguanberhadiah seputar pengetahuan tentang HIV-AIDS. Agar dapat menikmati program-program ini, para Peserta perlu terlebih dahulu membuat Account MAUTAU.

Ke depan, MAUTAU berencana menyediakan berbagai Program Bantuan khusus untuk orang-orang yang hidup dengan HIV, seperti pembiayaan Tes CD4, Tes Viral Load, Cuci Sperma, dll.

Kata Penutup

Sebagai akhir kata, kami yakin bahwa Kon TesHIV MAUTAU ini akan melakukan misinya dengan baik sebagai pelengkap program-program KIE dan VCT yang sudah berjalan selama ini, karena diharapkan dapat menjangkau orang-orang yang enggan diketahui jati dirinya atau tidak mau bertatap muka dengan Konselor, tetapi berpotensi menyebar luaskan HIV.

Maka, jika ada yang menanggapi sistim MAUTAU dengan skeptis, artinya kurang setuju dengan Konsultasi dalam rangka Tes HIV yang dilakukan secara Online, marilah kita merenung dan bertanya pada diri kita masing-masing:

“Sudahkah kita merasa puas dengan upaya pencegahan dan penanggulangan HIV-AIDS di Indonesia selama ini? Etiskah tidak menggunakan teknologi internet di era Cyberspace ini, jika dengan teknologi itu kita bisa menjangkau orang-orang yang selama ini sulit dijangkau dan dengan demikian bisa membantu mengurangi kasus  penularan HIV sehingga bisaturut menekan laju epidemi HIV di Indonesia?”

Mungkin saja, MAUTAU bukan merupakan sistim yang sempurna, tetapi keinginan untuk mencapai “kesempurnaan yang tidak realistis” adalah musuh utama terwujudnya “perbaikan yang realistis”.

Maka tujuan MAUTAU ialah mewujudkan “perbaikan yang realistis” ini, demi tercapainya upaya Pencegahan dan Penanggulangan HIV-AIDS yang lebih efektif di Indonesia.